HARI RAYA

PEMBAHASAN TENTANG HARI RAYA

1- Syekh Ahmad Zaini Dahlan memakai pakaian biasa di hari raya lalu beliau berkata: “Aku takut akan membuat sakit hati orang fakir (yang tidak mampu membeli baju baru) jika aku memakai pakaian yang baru”.

2- Wahai orang Islam:

ليس العيد لمن لبس الجديد

انما العيد لمن طاعته تزيد

Hari raya bukanlah untuk orang yang memakai baju baru, sesungguhnya hari raya hanya bagi orang yang ketaatannya bertambah

ليس العيـد مـن تجــل بــالملبوس والمركـوب

إنمـا العـيـد مــن غــــــــرت له الـــــــوب

Hari raya bukanlah untuk orang yang memperbagus pakaian dan kendaraan, sesungguhnya hari raya hanya bagi orang yang dosa dosanya terampuni

ليس العيد لمن أكل الطيبات وتمتع بالشهوات واللذات لكن العيد لمن قبلت توبته وبد لت سيئاته حسنات

Hari raya bukanlah untuk orang yang makan makanan enak atau bersenang-senang dengan syahwat dan kelezatan, tapi hari raya hanya bagi orang yang taubatnya diterima dan kejelekannya telah

diganti dengan kebaikan

Kal-Futuhatul Aliyyah: 258> keterangan senada di <Kalamul-Habib

Alawi bin Syihab: 2/49>

  1. Seorang lelaki mendatangi Amirul mukminin Imam Ali bin Abi Thalib di hari raya, dan beliau sedang makan roti tanpa lauk pauk. Lalu orang itu berkata: “Wahai Amirul Mukminin, hari ini adalah hari raya dan Anda memakan roti seperti ini?”. Imam Ali menjawab: “Bagi kami, hari ini adalah hari raya dan besok bagi kami juga hari raya, Setiap hari yang kami tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah di hari itu, maka itu bagi kami adalah hari raya”. keterangan senada di

ZIARAH KE SEORANG WALI

MENZIARAHI SEORANG WALI

1- Dikutip dari kitab A’malut-Tarikh: Barang siapa yang menulis sejarah seorang wali, maka dia akan bersama wali itu di surga kelak, dan barang siapa yang mempelajari sejarah seorang wali dikarenakan rasa cintanya kepada wali tersebut, maka dia seakan-akan telah menziarahi nya, dan barang siapa yang menziarahi seorang wali, maka dosa dosanya akan diampuni selama orang itu tidak menyakiti si wali itu atau menyakiti seorang Muslim di perjalanannya. keterangan senada di

2- Habib Abu Bakar Al-Attos ditanya seseorang: “Apa yang akan didapatkan oleh peziarah kubur para wali?”. Beliau menjawab: “Peziarah itu akan mendapatkan salah satu dari dua hal: pertama, minimal Allah akan mengampuni dosa-dosanya, dan kedua, maksimal dia akan mendapatkan kedudukan si wali yang diziarahinya”.

3- Salah seorang lelaki dari Maghrib menuju Hadhramaut hanya untuk mengunjungi Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi saja. Tatkala orang itu sudah pulang, Habib Ali Al-Habsyi berkata: “Kalau lelaki itu niatnya tulus dalam kunjungannya, maka aku jadikan kalian saksi bahwa orang itu akan menemaniku di surga kelak”.

4- Menziarahi orang yang masih hidup itu lebih utama daripada menziarahi orang yang sudah meninggal. Sebab orang yang sudah mati sifat kemanusiaannya telah tertutupi dalam sifat istimewa yang dimilikinya, maka kamu hanya mendengar tentang biografi dan karamahnya, dan itu hanyalah sifat istimewa yang dimilikinya. Sedangkan orang yang masih hidup jika dia adalah orang yang sempurna, maka dia adalah orang yang punya keistimewaan dan

punya sifat kemanusiaan, jika orang itu tidak sempurna, maka dia hanya punya sifat kemanusian saja.

orang yang sudah meninggal, dan faidah dari menziarahi wali yang masih hidup adalah meminta keberkahan do’anya dan keberkahan memandangnya, karena memandang wajah para ulama dan orang sholeh itu adalah ibadah’, dan dalam memandang mereka dapat menimbulkan rasa untuk meneladani mereka dan berakhlaq seperti akhlaq dan adab mereka. Dan ini selain faidah-faidah keilmuan yang ditunggu, baik dari ucapan mau pun gerakan mereka. Bagaimana tidak, hanya dengan menziarahi saudara karena Allah saja terdapat keutamaan sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam bab persaha batan. Dalam kitab Taurat disebutkan: berjalanlah 4 mil, kunjungilah saudara seiman [penjelasan sempurna terdapat pada kitab yang sama hal: 13, juz: 2. Disebutkan dalam kitab Taurat atau sebagian kitab: berjalanlah 1 mil, jenguklah orang yang sakit!. Berjalanlah 2 mil, antarkanlah jenazah sampai ke kuburan!. Berjalanlah 3 mil, hadirilah sebuah undangan!. Berjalanlah 4 mil, kunjungilah saudara karena Allah!. Hal ini menunjukkan bahwa mengunjungi orang yang masih hidup lebih utama].

6- Menziarahi tempat (yang pernah dihuni) seorang wali itu lebih utama daripada menziarahi makamnya, karena tempat itu telah bersambung dengan baju si wali itu, dan baju itu telah bersambung dengan badannya, dan badan itu telah bersambung dengan hatinya, dan hatinya telah bersambung dengan tuhannya.

7- Habib Abdullah Al-Haddad kadang-kadang menziarahi pemakaman

(tarim). Lalu beliau hanya meziarahi Al-Faqih Al-Muqaddam saja dan membaca surat Al-Ikhlas 3x, Al-Mua’widzatain (surat An-Nas dan Al-Falaq) serta membaca surat Al-Fatehah, kemudian beliau pulang. Kadang kala ada seseorang bertanya kepada beliau: “Kenapa Anda tidak menyempurnakan ziarah anda?”. Beliau menjawab: “Haji itu adalah wukuf di Arafah”, yakni menziarahi Al-Faqih itu sudah cukup, karena para arwah yang lain itu berada di sisi Al-Faqih”.

8- Sebagian pembesar dari orang-orang yang mulia melewati

Adz-Dzayibi, (lalu beliau tinggal di kota tersebut mengajar dan mendidik penduduknya beberapa waktu). Penduduk kota tersebut menjadi sangat yakin padanya. Kemudian penduduk kota itu berkeinginan untuk membunuhnya supaya nanti bisa dimakamkan di kota mereka sehingga mereka bisa menziarahinya dan mengambil berkah darinya.

  1. Dikatakan dalam perumpamaan Arab: “Balasan untuk Sinnimar”. yaitu: dia membalasku seperti balasan yang diterima oleh Sinnimar. Sinnimar adalah seorang lelaki yang berasal dari Romawi, dia membangun istana yang berada di tengah-tengah kota Kufah milik Nu’man putra Imri’il Qois. Tatkala dia telah menyelesaikan bangunan itu, Nu’man melemparnya dari bagian atas istana itu sehingga Sinnimar meninggal dunia. Nu’man melakukan hal itu supaya dia tidak membangun bangunan seperti itu untuk orang lain.

KOMENTARTENTANG WALI ALLAH.1- Dari Habib Abdurrahman bin Musthafa Al-Idrus bahwasanya jumlah para wali allah di setiap masa itu tidaklah berkurang dari jumlah para nabi, yaitu: 124.000 wali.Rasulullah bersabda:ا لا يجتمع أربعون من أمتي إلا وفيهم ولي الله »”Tidaklah berkumpul 40 orang dari umatku kecuali di dalamnya terdapat seorang wali Allah”.Para wali terbagi menjadi tiga: ada wali yang mengetahui bahwasanya dirinya adalah seorang wali dan diketahui oleh orang-orang, dan ada wali yang orang-orang tahu bahwasanya dia adalah seorang wali, namun dia sendiri tidak mengetahuinya, dan ada wali yang dia danorang-orang lain tidak tahu bahwa dirinya adalah seorang wali.Tetapi, wali yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang wali itulebih utama.Mengenali orang yang Arif (mencapai kedudukan ma’rifat atau wali allah) itu lebih sulit daripada mengenali Allah, karena Allah itu Maha dikenal dengan tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya, dan berbedanya dengan makhluknya didalam sifatnya danperbuatannya. Sedangkan orang Arif billah itu adalah makhluk yang juga makan, minum, tertawa dan tidur sepertimu, karena dia adalah manusia, maka barang siapa yang diberi cahaya oleh Allah, dia dapat menyaksikan sirr yang ada pada orang arif tersebut. Dan dia tidakmelihat kepada sifat kemanusiannya, sehingga dia akan mendapatkan manfaatnya, oleh karena inilah orang-orang Quraisy tidak mendapatkan manfaat dengan adanya Nabi mereka mengataiNabi: “Anak yatimnya Abu Thalib”, hal ini dikarenakan mereka melihat sifat kemanusiaannya saja tanpa melihat sifat khusus dimiliki oleh Nabi. yang5- Dari Sayyiduna Imam Ahmad bin Zain Al-Habsyi berkata: “Tidak diketahuinya para wali dari pandangan manusia itu merupakan suatu rahmat untuk mereka, karena jika mereka mengetahuinya lalu beradab dengan adab yang tidak baik padanya dan menyakitinya disertai dengan pengetahuannya bahwa dia adalah seorang wali, maka mereka akan binasa. Namun jika hal itu terjadi tanpa pengetahuannya bahwa dia adalah seorang wali, maka perkaranya lebih ringan daripada yangmelakukanya dengan sepengetahuannya”.6- Barang siapa yang dicintai oleh Allah, maka Allah tidak akan menyik sanya, bahkan musuh-musuhnya pun akan rela kepadanya dan dia akan diampuni, dengan petunjuk firman Allah:وقالت اليهود والنصرى نحن أبنوا الله وأحبوه قل فلم يعذبكم بذنوبكم”Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?”(Q.S. Al-Maidah: 18). Jika kalian benar-benar dicintai oleh Allah, pasti Allah tidak akan menyiksamu.7- Dari dua imam besar yaitu Imam Syafi’I dan Imam Abu Hanifahkeduanya berkata: “Kalau para ulama bukan wali Allah, maka Allah tidaklah mempunyai seorang walipun”.8- Sa’id bin Jubair pernah berkata: Telah terjadi paceklik pada orang orang di masa salah seorang raja di Bani Israil, mereka pun melakukan shalat istisqo untuk meminta hujan, namun hujan tidaklah turun, maka sang raja berkata: “Jika Allah tidak menurunkan hujan, maka aku akan menyakiti-Nya”. Orang-orang bertanya: “Bagaimana bisa anda menyakiti-Nya sedangkan Dia adalah Maha Benar dan Maha Tinggi, mustahil bagi-Nya untuk berada di langit, karena Allah Maha Suci dari tempat dan zaman?”. Sang raja berkata: “Aku akan membunuh para wali dan orang-orang yang taat kepada-Nya, maka hal itu akan menyakiti-Nya”. Maka Allah mengirimkan hujan untuk mereka sebagai anugerah dan kemurahan Allah kepada mereka.9- As-Sya’rani berkata: “Jika Allah berkehendak untuk mencabut keimanan seseorang, maka Allah akan menjadikan orang itu menjadi orang yang mengganggu wali-Nya”.Termasuk dari faidah diadakannya haul seorang wali adalah berkumpulnya kaum muslimin, dan memberi jamuan kepada mereka, serta menjadikan mereka yang hadir tahu tentang riwayat hidup si wali yang dihauli, sehingga mereka mempunyai keinginan untuk menela dani si wali tersebut.11- Imam Junaid berkata: “Hikayat-hikayat merupakan salah satu pasukan Allah yang bisa menguatkan hati-hati para muridin (orang yang menginginkan kedekatan dengan Allah)”. Lalu ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah hal itu ada dalilnya?”. Imam Al-Junaid menjawab: “Ya, yaitu firman Allah yang berbunyi:وكلا نقص عليك من أنباء الرسل ما نثبت به فؤادك”Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu;” (Q.S. Hud: 120). Firman ini mengisyaratkan bahwasanya Allah akan menguatkan hati-hati ahli iradah dengan hikayat orang-orang ahli tarekat.FAWAIDUL MUHTAROH

BIOGRAFI IMAM GHAZALI.1- Imam Sya’bi berkata: “Jika terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat, maka ikuti dan ambillah apa yang dikatakan oleh Umar bin Khatthab karena beliau tidaklah berfatwa kecuali setelah sempurna dalam berhati-hati dan berijtihad”. Dan Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi berkata: “Dan jika terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, maka kalian harus berpegang pada perkataan Imam Ghazali”.2- Sebagian ulama berkata: “Perbedaan ulama akhirat dengan ulama dunia adalah rasa kecintaan mereka pada Al-Ghazali. Maka barang siapa yang cinta pada Al-Ghozali, maka dia termasuk ulama akhirat, dan barang siapa yang membenci Al-Ghazali, maka dia termasuk ulama dunia”.3- Syekh Abu Hasan As-Syadzili berkata kepada murid-muridnya: “Barang siapa yang mempunyai hajat, maka hendaklah dia bertawassul pada Imam Ghazali”.keterangan senada di1.Saat masih kecil, syekh Nawawi telah menyaksikan malam Lailatul Qadar, hal ini diceritakan oleh sang ayah bahwa saat syekh Nawawi sedang tidur di samping sang ayah, pada waktu itu beliau berusia 7 tahun dan di malam 27 Ramadhan, syekh Nawawi pun terbangun di pertengahan malam seraya berkata: “Wahai ayahku! cahaya apa ini yang telah memenuhi rumah?”. Maka seluruh keluarga beliau pun terbangun seraya berkata: “Kami tidaklah melihat apa-apa”. Dan sang ayah berkata: “Sungguh aku tahu bahwasanya itu adalah malam Lailatul Qadar”.2- Kaum Sadah lebih mendahulukan pendapat Ibnu Hajar daripada pendapat Ar-Ramli karena dalam diri Ibnu Hajar terdapat 4 sifat: 1) besarnya kecintaan beliau terhadap ahlul bait, 2) pentakwilan beliau terhadap pendapat-pendapat kaum sufi, 3) penguasaan beliau terhadap ilmu hadits, 4) kuatnya beliau dalam pemahaman.Dikisahkan, ada seorang pencuri masuk ke dalam rumah Rabi’ah Al-‘Adawiyah, lalu pencuri itu mengambil barang yang ada di dalam rumah. Tatkala dia akan keluar, pencuri itu pun tidak mendapati pintu. Lalu pencuri itu meletakkan barang curiannya, maka pintu itu pun didapatinya dan begitu seterusnya, setiap kali dia mengambil barang, dia tidak mendapati pintu, dan jika barang itu diletakkan, pintu rumah pun didapatinya sehingga pencuri itu keluar dari rumah dalam keadaan kecewa. Tatkala pencuri itu keluar, dia mendengar suara yang berkata: “Jika Rabi’ah sedang tidur, maka Dzat yang dicintainya (Allah) tidak akan mengantuk dan tertidur”. keterangan senada di4- Syekh Muhammad Al-Majdzub termasuk pembesar kaum sholeh. Selama 80 tahun, beliau tidak pernah mandi karena junub, akan tetapi beliau telah sampai di derajat yang sangat tinggi. Beliau telah tersambung dengan Nabi sepenuhnya, sekiranya semua gerakannya itu merupakan arahan dari Nabi sehingga beliau tidaklah memben tangkan kasurnya kecuali itu adalah perintah Nabi, Nabi berkata kepada syekh Muhammad: “Wahai Muhammad, bentangkan kasurmu di tempat ini. Wahai Muhammad, tidurlah, wahai Muhammad bangunlah!”. Ini merupakan pemberian yang sangat besar yang telah diberikan oleh Allah kepadanya.5- Syekh Salim Ba-Fadhal tinggal di pengasingan selama 40 tahun untuk mencari ilmu, beliau pun membawa 40 muatan kitab. lihatlah beliau, karena hal inilah, beliau bisa memberi syafaat setiap harinya kepada 70 orang yang sedang diadzab.FAWAIDUL MUHTAROH.https://t.me/NGAJITERUS

BIOGRAFI IMAM MALIK DAN IMAM SYAFI’I

BIOGRAFI IMAM SYAFI’I DAN IMAM MALIK

1- Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris As-Syafi’i telah menghafal Al-Qur’an ketika beliau berusia 7 tahun dan telah hafal kitab “al-Muwattha”” ketika berusia 10 tahun serta mulai berfatwa pada usia 15 tahun. <al-Manhaj as-Sawiy: 410> keterangan senada di <Syarh al’Ainiyyah: 47>

2. Dikisahkan dari Imam Syafi’i : Tatkala beliau berada di kota Madinah dan duduk di majlis Imam Malik yang sedang mengajarkan kitab al-Muwatthâ’ kepada orang-orang yang berada di sana hingga Imam Malik mengajarkan kepada mereka 18 hadits, sedangkan Imam Syafi’i saat itu berada di bagian belakang. Lalu Imam Malik memandang sepintas pada Imam Syafi’i yang sedang menulis sesuatu di atas bagian luar telapak tangan dengan jarinya. Tatkala orangorang sudah bubar, Imam Malik memanggil Imam Syafi’i serta menanyakan asal daerah dan nasabnya, maka Imam Syafi’i pun memberitahukan itu semua. Lalu Imam Malik berkata: “Aku melihat tanganmu sedang melakukan sesuatu yang tidak ada gunanya di atas bagian luar telapakmu”. Imam Syafi’i menjawab: “Tidaklah seperti itu, akan tetapi di saat Anda mengajarkan satu hadits, aku pun mencatat hadits itu di atas bagian luar telapak tanganku. Jika Anda berkenan, maka aku akan mengulangi untukmu apa yang telah Anda ajarkan pada kami”. Imam Malik berkata: “Coba kau ulangi lagi apa yang aku ajarkan!”. Lalu Imam Syafi’i mengulangi kedelapan belas hadits yang telah diajarkan padanya. Kemudian Imam Malik menyuruhnya untuk lebih mendekat dan berpesan: “Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah karena kamu akan menjadi orang yang besar”. <al Manhaj as-Sawiy: 146> keterangan senada di <Tadzkirun-Nás: 281>

3- Saat Imam Syafi’i sedang duduk di depan Imam Malik bin Anas, datanglah salah seorang lelaki yang berkata kepada Imam Malik: “Aku adalah penjual burung tekukur, dan di hari ini aku telah menjual seekor burung tekukur, lalu pembeli burung itu mengembalikan burung yang sudah dibelinya seraya berkata, burung tekukurmu ini tidaklah berkicau, aku pun bersumpah akan menceraikan (talak) istriku bahwasanya burung itu tidak pernah berhenti berkicau”. Lalu Imam Malik berkata: “Istrimu tercerai, maka tidak ada jalan bagimu lagi (utuk menghindari terjadinya cerai) atas istrimu itu”. Imam Syafi’i yang di waktu itu berumur 14 tahun bertanya kepada lelaki tadi: “Mana yang lebih sering, berkicaunya atau diamnya?”. Penjual burung itu menjawab: “Lebih banyak berkicaunya”. Imam Syafi’i berkata: “kalau begitu istrimu tidak tercerai”. Imam Malik pun mengetahui hal itu, lalu berkata kepada As-Syafi’i: “Wahai anak kecil, dari mana kamu dapatkan jawaban ini?”. As-Syafi’i pun menjawab: “Karena Anda telah menyampaikan hadits kepadaku, dari Zuhri dari Abi Salamah bin Abdurrahman dari Ummu Salamah bahwasanya Fatimah binti Qois berkata (dalam meminta saran): “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Jahm dan Muawiyah telah meminangku”. Lalu Rasulullah bersabda: “Adapun Muawiyah adalah orang yang miskin dan tidak punya harta benda, sedangkan Abu Jahm adalah orang yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya (selalu berpergian)”. Sedangkan Rasulullah mengetahui bahwasanya Abu Jahm itu juga makan, tidur, dan beristirahat, sedangkan
Rasulullah telah bersabda tentang Abu Jahm, bahwasanya dia
adalah orang yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari
pundaknya. Perkataan itu berdasarkan majaz (perumpamaan) dan
kebiasaan orang Arab adalah menjadikan pekerjaan yang lebih sering
dikerjakan seakan-akan pekerjaan yang selalu dikerjakannya. Dan
tatkala kicauan burung itu lebih sering daripada diamnya, maka
seakan-akan burung itu tidaklah pernah berhenti dari berkicau”.
Imam Malikk pun terpukau dengan argumen Imam Syafi’i tersebut
seraya berkata: “Berfatwalah, dan sekaranglah waktunya kamu untuk
berfatwa”. Maka Imam Syafi’i pun mulai berfatwa pada usia 14 tahun.
<Nurul-Abshår: 237>

4 Imam Syafi’i adalah murid dari Imam Malik. Pada suatu hari,
Imam Malik pergi secara sembunyi-sembunyi ke belakang salah satu
tiang masjid untuk mendengarkan sang murid Syafi’i (yang sedang
mengajar), dan imam malik sembunyi agar tidak menimbulkan rasa
sungkan bagi Imam Syafi’i terhadap gurunya tadi. Setelah Imam
Malik duduk dan mendengarkan sang murid, Syafi’i, yang sedang
memberikan nasehat kepada orang-orang beliau menulis di tiang
Barang siapa yang“

«من أراد العلم النفيس، فعليه بمحمد بن إدريس»

:masjid
ingin mendapatkan ilmu yang berharga, hendaklah dia belajar dengan
Muhammad bin Idris”, yaitu Imam syafi’i. Tatkala Imam Syafi’i membaca
tulisan tersebut, beliau pun berkata: “Aku yakin bahwasanya perkataan
(yang tertulis di tiang masjid) itu adalah perkataan guru kita, Imam Malik”.
Maka beliau pun menulis di bawah tulisan itu dengan tulisan:
,?Bagaimana tidak seperti itu“

«كيف [لا يكون ذلك؟! وهو تلميذك يا مالك»
dia (Imam Syafi’i) adalah muridmu wahai Malik”. <Anisul-Mukminin: 81>

5. Imam Syafi’i membagi malam harinya menjadi tiga bagian: 1/3 malam
untuk sholat, 1/3 malam untuk belajar, dan 1/3 malam untuk tidur.
<al-Manhaj as-Sawiy: 451> keterangan senada di <Núrul-Abshår: 234>

6- Imam Syafi’i adalah orang yang punya hafalan kuat dan punya
kecepatan dalam menghafal. Sehingga beliau meletakkan lengan
bajunya di halaman buku sebelah kirinya supaya hafalan halaman
sebelah kiri itu tidak mendahului hafalan halaman sebelah kanan.
<Nafahâtun-Nasîm al-Hajiri: 195>

7-Seandainya 100 bait syair dibacakan pada Imam Syafi’i, niscaya
[19/2 00.53] Salman Obah Berkah: beliau akan menghafal 100 bait syair tersebut seketika. <atau yang semakna dengan pembahasan ini>

BIOGRAFI HABAIB

BIOGRAFI AL-FAQIH AL-MUQADDAM DAN PUTRANYA ALAWI

1. Orang yang pertama kali diberi gelar al-Ustadz adalah Sayyiduna Al Faqih Al-Muqaddam.

2- Sayyiduna Syekh Al-Imam Abdurrahman bin Muhammad Assegaf berkata: “Tidaklah kami mengutamakan Seseorang atas Al-Faqih Al Muqaddam setelah para sahabat kecuali orang yang keutamaannya telah ada dalam nash hadits seperti Uwais Al Qarni, mudah-mudahan Allah meridhai mereka semua”.

3- Suatu saat, Al-Faqih pernah tidak ikut dalam ziarah Nabi Hud,

beliau berkata: Ketika aku sedang duduk di tempat beratap tinggi,
tiba-tiba Nabi Hud masuk ke tempatku dengan menundukkan
kepalanya supaya tidak terkena atap rumah seraya berkata: “Wahai
Syekh (Al-Faqih) jika kamu tidak menziarahiku, maka aku
menziarahimu”.
yang

4- Salah seorang Salaf berkata: “Tiga orang dari Sadah yang mempunyai

jasa pada semua Sadah, yang pertama adalah Sayyiduna Al-Muhajir

Ahmad bin Isa tatkala beliau mengeluarkan keluarganya dari Irak yang

sudah terjadi banyak bid’ah dan kemungkaran menuju Hadramaut yang

masih berupa tanah yang kosong dari bid’ah. Kedua adalah sayyiduna Al

Faqih Al-Muqaddam tatkala beliau memecahkan pedang dan menyelamatkan

mereka dari kebiasaan membawa pedang yang menyebabkan terjadinya

kesalahan yang besar (pembunuhan). Ketiga adalah Sayyiduna Syekh Ali bin Abu Bakar tatkala beliau mentashih dan mencatat nasab keturunan

bani Alawi (keturunan Rasulullah) yang suci serta membukukannya”.

5- Dari sayyiduna Al-Faqih Al-Muqaddam bahwasanya beliau
pernah berkata: “Putraku Alawi itu mengetahui orang yang kelak akan
celaka dan orang yang kelak akan bahagia”. Suatu hari, beliau bertanya
kepada sang putra: “Apakah aku termasuk orang yang bahagia kelak?”.
Syekh Alawi menjawab: “Ya, tertulis di dahi Anda; Orang yang
Bahagia”.

BIOGRAFI AL-HABIB ABDURRAHMAN ASSEGAF

1- Sebagian Ulama berkata: “Sesungguhnya Habib Abdurrahman Assegaf
akan memberi syafaat pada orang yang lahir di abad beliau dan memberi
syafaat pada orang yang meninggal di abad beliau”.

2- Syekh Abdurrahman Assegaf tidaklah berhaji di alam zhahir, akan
tetapi orang-orang banyak yang melihat beliau dalam hajinya berkali

kali.
3- Pada suatu hari, Habib Idrus bin Umar menyebut keutamaan Abu
Yazid Al-Busthomi serta menyebut biografi beliau sampai sebagian
yang hadir berangan-angan seraya berkata: “Andaikan saja Abu Yazid
ada bersama kita”. Lalu Habib Idrus berkata: “Demi Allah, seandainya
ada 70 orang yang seperti Abu Yazid, mereka tidak akan sampai kedudukan debu yang ada dikaki Habib Abdurrahman Assegaf”.

BIOGRAFI AL-HABIB ABDULLAH AL-HADDAD

1 Habib Umar bin Zen bin Sumaith berkata: “Ulama atau para wali itu ada yang sir-nya (barokah dan keistimewaan) terletak pada karangan-karangan mereka seperti Imam Nawawi yang termasuk karangannya adalah al-Minhaj dan Syarh Muslim. Meskipun begitu, Imam Nawawi tidak pernah menikah dan beliau meninggal dalam usia 44 tahun. Habib Abdullah Al-Haddad berkata: “Seandainya Imam Nawawi berumur seperti umurnya Al-Ghazali, niscaya beliau akan menyebarkan ilmu-ilmu yang disebarkan oleh Al-Ghazali”. Sebagian ulama atau para wali ada yang sir-nya terletak pada murid-muridnya, seperti Abul Hasan As-Syadzili. Dan yang termasuk muridnya adalah Abu Abbas Al-Mursi, sebagian mereka ada yang sir-nya terletak pada keturunannya, seperti Syekh Abu Bakar bin Salim. Sebagian mereka lagi ada yang sir-nya terletak pada keturunan, murid-muridnya dan karangan-karangannya seperti Habib Abdullah Al-Haddad.

2- Tatkala seseorang bertanya kepada Habib Abdullah Al-Haddad tentang madzhabnya, beliau berkata: Aku ingin katakan kepadanya: “Madzhabku adalah kitab dan sunnah”. Dikarenakan aku takut orang-orang yang hadir akan mengingkarinya, maka aku katakan: “Madzhabku adalah madzhab Muhammad bin Idris As-Syafi’i”. Lalu ada salah seorang yang hadir meng-kasyaf-ku (mengetahui apa yang ada dalam hatiku) seraya berkata kepadaku: “Kenapa engkau tidak mengatakan apa yang ada pada dirimu?, katakanlah: madzhabku adalah kitab dan sunnah”. Ada yang berpendapat bahwa orang yang berkata kepada Al Habib Abdullah Al haddad itu adalah Nabi Khidhir

3- Salah seorang pembesar para wali berkata: “Seandainya ada seorang nabi setelah Nabi Muhammad, maka yang akan menjadi nabi itu adalah Habib Abdullah Al-Haddad sebab dakwahnya”.

https://t.me/NGAJITERUS

KISAH SEBAGIAN SAHABAT NABI

Sabtu 18 Jumadil akhir 1443 H/21 Januari 2021 M.

KITAB FAWAIDUL MUHTAROH

BIOGRAFI SEBAGIAN SAHABAT NABI

1- Rasulullah bersabda: Tadi Jibril telah datang kepadaku, lalu aku katakan kepadanya: “Wahai jibril, beritahu aku keutamaan-keutamaan Umar bin Khatthab”. Jibril menjawab: “Seandainya aku sebutkan tentang keutamaan-keutamaan Umar semenjak Nuh tinggal bersama kaumnya, niscaya keutamaan-keutamaan Umar tidak akan habis. Dan Umar adalah satu kebaikan dari kebaikan-kebaikannya Abu bakar”.

2- Termasuk daripada karamah Sayyiduna Abu bakar As-Shiddiq adalah bahwasanya tatkala jenazah beliau ditandu ke kuburan Nabi , ada suara yang berbunyi: “Salam kepadamu wahai Rasulullah, ini adalah

Abu Bakar berada di depan pintu”. Tiba-tiba pintu itu terbuka dan
terdengar hatif (suara gaib) dari dalam kubur Nabi:
“Masukkanlah seorang kekasih (Abu Bakar) ke sebelah kekasihnya

أدخلوا الحبيب إلى الحبيب!

(Nabi)”.

  1. 3.’Aisyah bermimpi melihat tiga bulan telah jatuh ke pangkuannya,
    Abu Bakar berkata kepada ‘Aisyah: “Jika mimpimu itu benar, maka
    akan dikuburkan tiga penduduk bumi yang terbaik di rumahmu”. Tatkala
    Nabi dikuburkan di rumah ‘Aisyah, Abu Bakar berkata: “Ini
    adalah salah satu bulanmu, dan dialah bulan yang terbaik dari tiga bulan
    itu”.

Nb .
1 Bulan yang kedua adalah ayahnya sendiri sayyidina Abubakar, dan bulan yang ketiga
adalah sayyidina Umar bin Khattab
¹HR. al-Imâm al-Hâkim

4- Sayyiduna Usman bin Affan tidaklah pergi ke kamar mandi
kecuali beliau memakai penutup kepala karena rasa malu beliau
kepada para malaikat. Maka beliau pun mendapat balasan dengan
rasa malu malaikat padanya sebagaimana yang telah disebutkan
dalam hadits. Rasulullah bersabda: “Apakah aku tidak malu kepada
orang yang para malaikat langit merasa malu kepadanya”.
Ibrahim bin Adham pernah berkata: Telah sampai pada kami bahwasanya
Utsman membentangkan selendangnya untuk para malaikat di
depan pintu kamar mandi seraya berkata: “Duduklah kalian berdua
disini sampai aku keluar kepadamu”.

  1. Muawiyah menangis ketika salah seorang menceritakan sifat-sifat
    Sayyiduna Ali.’

Nb.
Diriwayatkan bahwa Muawiyah meminta Dhiror bin Dhomroh untuk menceritakan
tentang sifat-sifat sayyidina Ali, maka beliau berkata “sayyidina Ali adalah orang yang
jauh pandangannya (selalu yang dipandang adalah kebaikan akhirat), sangat kuat,
perkataannya benar, adil dalam menghukum, terpancar ilmu dari dirinya, keluar dari
ucapannya mutiara-mutiara hikmah, menyukai makanan yang keras dan pakaian yang biasa,
tidak suka terhadap dunia dan keindahannya, merasa tenang (ibadah) di kegelapan malam,
dan demi Allah dia orang yang banyak menangis (karena Allah), berpikir panjang, suka
membalik telapak tangannya (gemar bersedekah), mengintropeksi dirinya, mengagungkan orang
alim, mencintai orang miskin, orang yang kuat tidak bisa membuatnya berbuat kebatilan
(tidak bisa disuap) dan orang yang lemah tidak putus asa untuk mendapat keadilannya…..

6- Hakim bin Hizam dilahirkan di dalam ka’bah, dan hal itu disebabkan karena sang ibu mengikuti rombongan perempuan-perempuan Quraisy yang sedang memasuki Ka’bah dalam keadaan hamil, ibu sudah tidak tahan lagi lalu lahirlah Hakim. Hakim dilahirkan 13 tahun sebelum kejadian Perang Gajah dengan adanya perbedaan pendapat dalam hal itu. Hakim telah hidup selama 120 tahun, 60 tahun hidup pada masa Jahiliah (kafir), 60 tahun hidup pada masa Islam, beliau telah ikut dalam Perang Badar bersama orang-orang kafir, dia pun selamat namun dengan kekalahan. Jika bersumpah, beliau berkata: “Demi Dzat yang telah menyelamatkanku di Perang Badar”. Tidaklah dia berbuat suatu kebaikan yang dilakukan pada masa Jahiliah kecuali dia telah mengerjakan juga kebaikan itu pada masa Islamnya. Lalu Hakim mendatangi Nabi seraya berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda, aku telah melakukan perbuatan-perbuatan berupa ibadah yang telah aku lakukan di masa Jahiliah, apakah ada pahala untukku?”. Rasulullah bersabda: “Kamu masuk islam dengan membawa kebaikan-kebaikan yang telah kamu lakukan dahulu”.

7- Ibnu Mas’ud adalah orang yang sangat pendek dengan ukuran setinggi hasta dan berbetis kaki pendek. Saat mengambil siwak dari pohon Arok, tiba-tiba angin membuat beliau terjatuh hingga jungkir balik. Orang-orang pun menertawainya, lalu Rasulullah bersabda: “Apa yang kalian tertawakan?”. Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah, kami tertawa karena pendeknya kedua betis kaki Ibnu Mas’ud”. Lalu Rasulullah bersabda:

« والذي نفسي بيده، لهما في الميزان أثقل من أحد »

“Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, dua betis kaki Ibnu Mas’ud di mizan (timbangan amal) kelak lebih berat daripada gunung Uhud”.

-8.Az-Zamakhsyari berkata dalam kitab Rabi’ul Abrår: Sesungguhnya para sahabat tatkala datang ke kota Madinah dengan membawa barang rampasan dari Persia di masa pemerintahan Umar, ada bersama mereka tiga putri raja Yazdajrad. Umar memerintahkan untuk menjual tiga putri tersebut, lalu Ali berkata: “Sesungguhnya putri-putri raja itu tidaklah diperlakukan seperti diperlakukannya perempuan lainnya”. Umar bertanya: “Lalu bagaimana cara kita menjual tiga putri itu?”. Ali menjawab: “Ketiga putri itu dihargai sesuai dengan harga yang pantas, dan orang yang memilihnya membelinya dengan harga tertinggi”. Setelah ketiga putri itu dihargai, Ali mengambil ketiga putri tersebut, lalu menyerahkan salah satu putri kepada Abdullah bin Umar, satunya lagi untuk putra beliau yaitu Husain, dan satunya lagi untuk Muhammad bin Abu Bakar.

Putri yang diambil oleh Abdullah melahirkan Salim, dan yang diambil Husain melahirkan Zainal Abidin, dan yang diambil oleh Muhammad bin Abu Bakar melahirkan Qasim. Maka mereka bertiga (Salim, Zainal Abidin dan Qasim) adalah Banu Khalah (saudara satu bibi).

Ashma’i berkata: “Sebelumnya penduduk Madinah menjauhi tawanan perempuan sampai tersebar pada mereka ketiga orang itu (Salim, Zainal Abidin, Qosim), dan mereka bertiga mengungguli penduduk Madinah dalam hal keilmuan, kesholehan, kewara’an dan keutamaan, maka dengan itu orang-orang mulai menyukai tawanan perempuan”.

  1. Orang yang pertama kali mengambil kitab (catatan amal semasa hidup di dunia) dengan *tangan kanannya kelak dari umat ini adalah Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad karena beliau adalah orang yang pertama hijrah dari Makkah ke Madinah, semoga Allah memuliakan kedua kota itu (diambil dari kitab Kanzul-Asrár). Dan orang yang pertama kali mengambil kitabnya dengan *tangan kirinya kelak dari umat ini adalah Aswad bin Abdul Asad* saudara Abu Salamah bin Abdul Asad (diambil dari kitab Kanzul-Asrar).

  1. https://t.me/NGAJITERUS

KISAH TENTANG SEBAGIAN ORANG SOLEH

KISAH TENTANG SEBAGIAN ORANG
SOLEH

KISAH TENTANG SEBAGIAN ORANG
SOLEH

Rabu Kliwon 15 Jumadil akhir 1443 H/19 Januari

Rabu Kliwon 15 Jumadil akhir 1443 H/19 Januari

TENTANG SAHABAT NABI

  1. Abdullah bin Mubarak (yang begitu tinggi keagungan dan keilmu
    annya] ditanya tentang siapa yang lebih utama, apakah Muawiyyah
    atau Umar bin Abdul Aziz?. Beliau menjawab: “Debu yang masuk di
    hidung Muawiyah sewaktu bersama Rasulullah itu lebih baik daripada
    Umar bin Abdul Aziz sekian kali lipat”, sambil mengisyaratkan bahwa
    keutamaan shuhbah (kebersamaan) beliau bersama Rasulullah dan
    melihatnya beliau pada Rasulullah itu tidak ada suatu pun yang
    bisa menandinginya. Kash-Shawâiqul-Muhriqah: 321>
    dari Anas sebuah hadits marfu’:

2- Diriwayatkan
« آية المنافق بغض الأنصار، وآية المؤمن حب الأنصار »
“Tanda orang munafik adalah membenci sahabat Anshar, dan tanda
orang Mukmin adalah cinta kepada sahabat Anshar”.

Dalam riwayat lain:
« حب الأنصار آية الإيمان، وبعضهم آية النفاق »

“Cinta sahabat Anshar adalah tanda keimanan, dan membenci mereka
adalah tanda kemunafikan”¹.
Kal-Manhaj as-Sawiy: 717> keterangan senada di

  1. Sebagian ulama berkata: Sewaktu aku tinggal bersebelahan dengan
    Kota Madinah, beberapa sahabatku yang sedang kelaparan menda
    tangiku. Maka aku pun keluar mencari makanan untuk mereka.
    Lalu aku mendapati sekelompok orang Rafidhah (syi’ah) berada di
    kubah Abbas, aku pun meminta makanan kepada mereka untuk

dimakan oleh sahabatku demi kecintaan pada Abu Bakar dan Umar.
Lalu salah seorang dari mereka berkata: “Pergilah bersamaku!”. Aku
pun pergi bersamanya ke sebuah rumah yang besar, ternyata terdapat
dua budak hitam dan dia menyuruh kedua budak itu untuk memu
kulku.

Keduanya pun memukuliku dengan keras, kemudian mereka
berdua memotong lidahku. Tatkala malam hari telah tiba, mereka
membuangku di tengah jalan dan aku mendapati diriku masih hidup.
Aku pun menuju kuburan Nabi dan aku mengadukan keadaanku
kepada beliau. Lalu aku ketiduran dan kemudian terbangun dalam
keadaan sehat. Tahun berikutnya, beberapa orang fakir mendatangiku
dan mereka meminta makanan kepadaku. Aku pun menuju kubah
Abbas dan aku dapati lagi orang Rafidhah, lalu aku meminta kepada
mereka demi kecintaan kepada Abu bakar dan Umar.

Lalu ada
seorang pemuda berkata: “Duduklah!” aku pun duduk. Tatkala mereka
selesai dari urusan mereka di kubah tersebut, aku pun ikut pemuda
itu ke rumahnya. Lalu dia memberiku makanan dan mengeluarkan
seekor kera. Aku pun bertanya: “Apa ini?”. Pemuda itu menjawab:
“Ini adalah ayahku, telah datang kepadanya seorang fakir pada tahun yang
lalu. Orang fakir itu memintanya makanan demi kecintaannya terhadap
Abu Bakar dan Umar, lalu ayahku memotong lidahnya dan menyuruh
budaknya untuk memukul si fakir itu”.

Lalu aku katakan padanya:
“Akulah si fakir itu”. Pemuda itu pun berkata: “Rahasiakanlah kejadian
ini, karena aku telah umumkan bahwasanya ayahku telah meninggal, dan
aku telah bertaubat dari perbuatan mencela Abu Bakar dan Umar”.

https://t.me/NGAJITERUS

ANCAMAN MENENTANG SUNNAH


ANCAMAN MENENTANG SUNNAH

1- Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang akan melaksanakan sholat sunnah setelah sholat subuh. Sa’id ibnu Musayyib atau Ibrahim bin Adham mengingkari perbuatan itu namun orang itu tidak menghenti kannya. Maka beliau berkata: “Allah akan menyiksamu atas sholatmu ini”. Lalu orang itu pun berkata: “Apakah Allah akan menyiksaku sebab sholat ini?”. Beliau berkata: “Tidak, tetapi Allah akan mengadzabmu sebab pertentangan terhadap sunnah Nabi”. <atau yang semakna dengan pembahasan ini>

2- Diceritakan ada seorang lelaki mengingkari perbuatan sebagian orang fakir yang menjilati jari-jarinya setelah makan sebagaimana hal itu dianjurkan karena itu adalah sunnah. Kemudian lelaki itu tidur dan tidaklah lelaki itu terbangun dari tidurnya kecuali jari-jarinya sudah terpisah dari tangannya.
<atau yang semakna dengan pembahasan ini>

3- Diriwayatkan bahwasanya Ibnu Al-Hajj ingin memotong kuku kukunya di hari rabu. Lalu beliau teringat hadits Nabi yang melarang memotong kuku di hari Rabu karena hal itu bisa menyebabkan terkena penyakit baros sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits dan beliau pun kemudian meninggalkan hal itu. Lalu beliau berpendapat bahwasanya sunnah itu bukanlah hadits shahih. Beliau pun memotong kukunya dan akhirnya terkena penyakit baros. Kemudian beliau bermimpi Rasulullah bersabda: “Apakah kamu tidak mendengar laranganku dalam hal itu?”. Lalu Ibnu Al-Hajj berkata: “Wahai Rasulullah! hadits itu bukanlah hadits shahih menurutku”. Rasulullah bersabda: “Cukuplah bagimu (untuk meninggalkannya) dengan mendengarkan hadist tersebut”. Kemudian Rasulullah mengusap badan Ibnu Al-Hajj, maka hilanglah penyakit itu darinya. <Ta’liq Fathul ‘Allâm: 3/56>

4- Salah seorang ahli hadits mendengar apa yang telah diriwayatkan dalam hadits shahih dari sabda Nabi yang berbunyi: “Apa orang yang mengangkat kepalanya (dalam sholat) sebelum imamnya itu tidak takut jika kepalanya dirubah oleh Allah dengan kepala keledai”. Lalu orang itu pun memilih untuk mengangkat kepalanya sebelum imam mengangkat kepalanya dan orang itu beranggapan bahwa hal itu tidaklah mungkin dan tidak akan terjadi. Kemudian kepala orang itu pun berubah menjadi kepala keledai. Dan orang itu pun mengajar santri-santrinya di belakang hijab (penutup) dan tidak ada seorang pun yang tahu terhadap apa yang terjadi padanya. Pada suatu hari salah seorang yang ingin meriwayatkan hadits darinya ingin melihat wajahnya dan memaksanya untuk memperlihatkan wajahnya, sehingga dia bisa melihat wajah si ahli hadits ini. Lalu si ahli hadits ini memberitahu nya bahwa dia telah berbuat kurang ajar pada pembawa syari’at (Nabi) yang menyebabkan si ahli hadits ini terkena bala’.

<Kalâmul Habib Idrus al Habsyi: 263>

MENELADANI SALAF

1. Definisi salaf telah disebutkan dalam sabda Nabi yang berbunyi: “Sebaik-baik manusia adalah di zamanku, kemudian zaman setelahnya kemudian setelahnya lagi”. Ini adalah definisi salaf menurut pemahaman secara umum, adapun definisi secara khusus yaitu orang yang hidup sebelum zaman Habib Abdullah Al-Idrus dan Habib Abu Bakar as Sakran, adapun orang yang hidup setelah keduanya maka dinamakan khalaf jika dia adalah orang yang sholeh, kalau tidak sholeh maka dinamakan kholf. <atau yang semakna dengan pembahasan ini>

2- Termasuk kalam Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad:
واقتد هداك الله بالأسلاف
والزم كتاب الله واتبع سنة
Lazimilah selalu Al-Qur’an dan sunnah Nabi, dan ikutilah selalu kaum salaf, maka Allah akan memberimu petunjuk Kal-Manhaj as-Sawiy: 53> keterangan senada di <Tadzkirun-Nâs: 21>

3- Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi dalam qosidahnya berkata kepada anak-anaknya dan yang lainnya:
ومما يسر القلب مني لزومكم * طريقة آبائي وأهلي وأجدادي
Dan yang membuat hatiku gembira adalah kalian selalu mengikuti jalan ayah, keluarga, dan kakek-kakekku.

<Tuhfatul Ahbab: 360>

4- Habib Ahmad bin Hasan Al-Attos berkata: “… tidaklah aku melihat

sebuah amalan dari amal-amal mereka (para salaf) dan kebiasaan mereka

kecuali mempunyai sumber rujukan dan bersandarkan pada sunnah Nabi” <al-Manhaj as-Sawiy: 505> keterangan senada di <Tadzkirun-Nâs: 96> 5- Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad berkata: “Kalau bukan karena adab kepada para pendahuluku, niscaya aku akan mengikuti Imam Malik dalam masalah hukum tentang air”. <Tadzkirun-Nas: 42>

KITAB FAWAIDUL MUHTAROH

https://t.me/NGAJITERUS

@ridlom564

MENGAMALKAN SUNAH ROSUL

MENGAMALKAN SUNNAH RASUL

ANJURAN MENGAMALKAN SUNNAH

1- Sayyiduth-Thaifah Al-Junaid berkata: “Semua jalan menuju Allah telah tertutup, kecuali bagi orang yang mengikuti jejak Rasulullah”.

<al Manhaj as Sawiy: 60> keterangan senada di <Risâlatul-Mu’awanah: 65>

2- Amalan yang sesuai dengan sunnah Rasulullah dimisalkan seperti permata yang mahal dan berharga. Jika dibandingkan dengan barang berharga lainnya, maka nilai permata yang sedikit itu seperti banyaknya barang yang selain permata. <al-Fawaid ad-Durriyyah: 18>

3- Telah datang sebuah hadits: Kadang kala ada seorang budak yang mengungguli tuannya beberapa derajat di surga kelak, lalu sang tuan berkata: “Wahai tuhanku, orang ini waktu di dunia adalah budakku”. Allah berfirman: “Aku membalasnya sesuai dengan amalnya”..

<Risalatul-Mudzakarah: 17>

4- Kadar kedekatan seseorang dengan Nabi itu sesuai dengan kadar
orang tersebut dalam mengikuti Rasulullah. <atau yang semakna

dengan pembahasan ini>

5. Rasulullah bersabda:

« بدأ الدين غريبا، وسيعود غريبا كما بدأ، فطوبى للغرباء الذين يحيون ما أمات الناس من سنتي »

“Agama dimulai dalam keadaan asing, suatu saat akan kembali menjadi asing sebagaimana semula, maka beruntunglah orang-orang yang asing yang telah menghidupkan sunnahku yang telah dimatikan (ditinggalkan) oleh manusia”. <ad-Da’wah at-Tâmmah: 42>

6- Telah datang sebuah hadits:

« من أحيا سنتي فقد أحبني، ومن أحبني كان معي في الجنة “Barang siapa yang menghidupkan sunnahku maka dia telah cinta padaku, dan barang siapa yang mencintaiku, maka orang itu akan tinggal di surga bersamaku

7- Syekh Ma’ruf bin Abdullah Ba-Jammal mempunyai 100.000 murid dan membaginya menjadi tiga tingkatan: tingkat tinggi, tingkat tengah, tingkat bawah.

Pada semua tingkatan disyaratkan tiga hal:

1) Setiap orang harus memperbaharui taubatnya kepada Allah setiap

saat, atau setiap nafas.

2) Menjauhi segala hal yang makruh layaknya menjauhi hal yang haram

3) Mengamalkan semua sunnah yang telah dibawa oleh syari’at (layaknya mengamalkan sesuatu yang wajib).

8 .Nabi bersabda:

« لتتبعن سنن من قبلكم شبرا بشبر، وذراعا بذراع، حتى لو دخلوا جحر ضب لدخلتموه! »

“Sungguh kalian akan mengikuti tingkah laku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan mengikutinya”. Para sahabat bertanya: “Mengikuti Yahudi dan Nasrani?”. Nabi menjawab: «! “Siapa lagi?!”?9.Sebagian ulama enggan untuk makan buah semangka, hal itu dikarenakan dia belum mendapatkan hadits yang menerangkan cara Nabi dalam makan semangka meskipun ada hadits yang menerangkan bahwasanya Nabi pernah makan semangka.

9.Sebagian ulama enggan untuk makan buah semangka, hal itu dikarenakan dia belum mendapatkan hadits yang menerangkan cara Nabi dalam makan semangka meskipun ada hadits yang menerangkan bahwasanya Nabi pernah makan semangka.

keterangan senada di Risalatul Muawanah :81

10- Tatkala Imam Ahmad bin Hambal ditimpa cobaan, beliau pun bersembunyi selama tiga hari lalu keluar. beliau pun dikabari: “Mereka (para prajurit kerajaan) sekarang sedang mencari Anda”. Beliau menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah tinggal di dalam gua tidak lebih dari tiga hari

tatkala beliau bersembunyi dari kejaran orang-orang kafir, maka aku pun

tidak akan melebihi sunnah itu”. <Lathaiful-Minan: 696